Primadonabayan's Blog

primadonabayan merupakan blog berita khususnya seputar Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tengga Barat dari Radio Primadona FM

Tata Cara Pelaksanaan Khitanan Pada Komunitas Adat “Wetu Telu” Dusun Semokan

Dua Hari Baik Untuk Khitanan Anak
Masyarakat Komunitas adat  “wetu telu”  dusun Semokan Desa Sukadana Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara merupakan komunitas yang terikat oleh norma-norma  atau hukum adat yang harus dipatuhi  dalam setiap aspek kehidupan komunitasnya, termasuk salah satu diantaranya adalah pelaksanan khitanan.

Khitanan sendiri bagi komunitas wetu telu dusun Semokan memiliki arti yang sangat penting berdasarkan adat dan budaya mereka di samping merupakan kewajiban bagi ummat Islam. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun sejak dari nenek moyang mereka.
Masyarakat dusun Semokan  umumnya menganut sistem budaya dan agama yang sama dengan masyarakat Bayan pada umumnya yaitu agama Islam dengan adat wetu telu, sehingga dusun Semokan merupakan bagian dari wilayah adat yang ada di Bayan. Demikian juga dalam hal mengkhitan anaknya, komunitas adat wetu telu dusun Semokan tidak jauh berbeda dengan adat dan budaya di Bayan. Dan pelaksanaan khitanan yang dilakukan oleh masyarakat  bisa dikatakan unik.

Dalam pelaksanan khitanan komunitas adat wetu telu dusun Semokan perlu mencari waktu yang baik, Dan menurut beberapa tokoh adat dusun Semokan menyebutkan bahwa waktu yang baik itu adalah pada hari senin dan kamis.
Berbeda dengan pelaksanan khitanan yang dilakukan oleh masyarakat kebanyakan di Bayan atau masyarakat lainnya yang ada di Lombok yang melakukan khitanan pada hari apapun. Namum bagi masyarakat wetu telu dusun Semokan,  khitanan harus dilakukan pada hari senin dan kamis.
Menurut Erni Budiwati (2000 : 188-189) dikalangan wetu telu Bayan, anak laki-laki dikhitan pada saat berusia antara 3 hingga 10 tahun seperti Buang Awu, Ngurisang,  mereka juga memandang khitanan sebagai symbol peng-Islaman. Seorang anak tetap Buda sampai dia dikhitan. Kedudukan Raden Penyunat/ tukang khitan seperti jabatan adat lainnya bersifat turun temurun.

Lalu mengapa khitanan harus dilakukan pada hari senin dan kamis? Menurut penuturan beberapa tokoh adat dusun Semokan, hari senin dan kamis adalah hari yang mulia, karena pada hari senin Nabi Muhammad Saw dilahirkan, sedangkan hari kamis beliau diselmatakan dari mara bahaya.
Selain itu masyarakat adat setempat juga mengakui bahwa pada hari senin Nabi Adam Alaihissalam  mulai menjalani kehidupan di syurga, sedangkan pada hari kamis Siti Hawa diciptakan untuk menemani Nabi Adam As.
Selain alasan tersebut masih ada lagi satu alasan yang mengemuka yakni dalam sejarah Nabi Muhammad Saw, pertama kali mengkhitan cucunya anak dari Sayyidina Ali, Ra pada hari senin.

Berdasarkan beberapa alasan tersebut, sehingga komunitas adat di dusun Semokan melaksanakan acara khitanan pada hari senin dan kamis, sedangkan pada hari-hari lainnya tidak diperbolehkan. Dan ini masih tetap berlaku dari generasi ke generasi.

Menurut konsep keyakinan mereka, tidak diperbolehkan hari-hari lainnya untuk mengkhitan anak, karena hari selasa hari diciptakannya api oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Hari Rabu adalah hari diciptakannya angin. Hari jum’at adalah hari yang suci sehingga tidak diperbolehkan melakukan acara khitanan pada hari itu, sebab manusia pada dasarnya adalah kotor. Sedangkan hari sabtu, hari diturunkannya segala wabah penyakit, dan hari ahad  merupakan hari diciptakannya syetan untuk menggoda umat manusia.
Dalam buku Ensklopedia Islam diceritakan pula mengenai khitanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada saat mengkhitan cucunya yaitu Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib dan Husein Bin Ali Bin Abi Thalib pada saat mereka baru berusia 7 hari yang konon dilakukan pada hari Senin (Azyumardi Azra, 2002 : 332).

Berdasarkan keterangan ini mungkin juga nenek moyang masyarakat Dusun Smokan pernah mendengar tentang riwayat tersebut sehingga mereka melaksanakan khitanan pada hari Senin dan Kamis.  Dan ini diwariskan kepada anak cucu mereka hingga sekarang. Lalu adakah pantangannya bila tidak melakukan khitanan  anka pada hari senin atau kamis?

Bagi sebagian umat Islam, menentukan hari mengkhitan anak tidak ada pantangan, semua hari baik, kecuali hari Jum’at. Berbeda dengan komunitas adat wetu telu dusun Semokan, tidak semua hari bisa digunakan dalam melakukan acara ritual khitanan sebab ada pantangan yang diyakininya, yang bila pantangan ini dilanggar, maka akan menimbulkan suatu musibah.

Menurut Amak Sirtawali tokoh adat setempat, bila komunitas adat  wetu telu dusun Semokan melakukan khitanan selain hari Senin dan Kamis, maka anggota masyrakat akan ditimpa musibah bukan hanya kelurga si anak yang dikhitan, tetapi semua anggota komunitas yang ada di dusun Semokan. Seperti penyakit dan sebagainya. Bahkan ada keyakinan anak yang dikhitan akan mengalami gangguan kesehatan (sakit)  berkepanjangan.  (Bersambung….)

November 12, 2009 - Posted by | Budaya Dan Sejarah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: